Hipmi: Penurunan Ekspor Cerminan Lemahnya Industrilisasi

5 February 2018

Pengusaha menilai jebloknya kinerja ekspor nasional 2017 dibandingkan dengan negara tetangga tak bisa sepenuhnya dilimpahkan kepada Menteri Perdagangan (Mendag) Engartiarso Lukito. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai pelemahan kinerja tersebut disebabkan oleh program industrilisasi di beberapa kementrian sama sekali tidak berjalan.

“Bapak Mendag tidak sepenuhnya dipersalahkan. Sebab industrialisasi yang menjadi tanggungjawab dibeberapa kementerian sama sekali tidak berjalan, malah cuma mempersulit investor,” kata Ketua Umum BPP Hipmi Bahlil Lahadalia di Jakarta, Sabtu (3/2).

Bahlil mencontohkan di sektor perikanan dan kelautan yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dia menilai peta jalan industrilisasi perikanan hingga saat ini belum jelas.

Bahlil mengatakan, industri perikanan Indonesia semestinya dapat menjadi andalan ekspor nasional. “Namun saat ini kita sudah tertinggal jauh dari Vietnam. Padahal lautan negara tersebut tak seluas Indonesia. Sepanjang 2017, mampu mengekspor ikan dan olahannya senilai 8,3 miliar dolar AS sedangkan Indonesia hanya separuhnya,” paparnya.

Hal serupa terjadi di Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). “Di kementerian ini aturan setiap bulan berubah membuat investasi kelistrikan melemah sehingga pasokan listrik industri mengalami defisit. Listrik yang ada habis diserap oleh konsumsi rumah tangga. Cari listrik untuk bangun coldstorage ikan sekarang susah sekali karena listrik habis untuk kejar rasio elektrifikasi,” ujar dia.

Tak hanya dikedua kementerian itu, di kementerian lainnya juga semangat mempersulit pengusaha masih terjadi dimana-mana.

Bahlil mengatakan, sebenarnya selain industrilisasi dan meningkatkan ekspor barang olahan, pemerintah juga dapat mendorong peningkatan produksi komoditas-komoditas pertanian, perkebunan untuk diekspor. Namun, peningkatan produksi komoditas-komoditas tersebut mesti dilakukan oleh Kementrian Perindustrian, Kementrian Pertanian, dan Kementerian ESDM.

Bahlil menilai, peringatan Presiden tersebut ditujukan untuk semua menteri-menteri terkait, tak hanya untuk Menteri Perdagangan.”Mendag tidak punya kewenangan penuh diwilayah produksi dan industri. Mendag hanya membantu kementerian lain dengan mengeluarkan kebijakan perdagangan yang pro ke industri dalam negeri,” pungkas Bahlil.

Bahlil mengingatkan daya saing industri nasional saat ini sangat lemah. Kondisi itu diperlemah oleh kurang kondusifnya iklim investasi yang disebabkan oleh carut-marut regulasi-regulasi baru ditingkat kementerian maupun di pemerintah daerah. Padahal, Indonesia telah memiliki momentum untuk meningkatkan investasi langsungnya setelah mencapai status investment grade tahun lalu. ”Menteri-Menteri tidak ikut semangat paket deregulasi Bapak Presiden. Saya juga heran kenapa,” cetusnya.

Bahlil mengingatkan, moncernya kinerja ekspor beberapa negara tetangga di Asean, sebab negara-negara tersebut melakukan perbaikan iklim investasi secara sistematis dan terstruktur. “Sehingga investor ke sana tidak dibikin susah, tapi dilayani secara paripurna,” pungkas Bahlil.

Dia mengatakan, industrialisasi merupakan penopang utama kinerja ekspor nasional. Sebab itu, pemerintah perlu waspada dengan ancaman deindustrialisasi dengan terus mendorong program hilirisasi di semua sektor usaha.

Sebelumnya, Presiden mengingatkan kinerja Indonesia, yang masih kalah dengan sejumlah negara tetangga di ASEAN. Presiden menyebut ekspor Indonesia pada 2017, yang mencapai 145 miliar dolar AS, masih kalah dengan Thailand yang mencapai 231 miliar dolar AS, Malaysia 184 miliar dolar AS, dan Vietnam yang mencapai 160 miliar dolar AS.

"Negara sebesar ini kalah dengan Thailand. Dengan resources dan SDM yang sangat besar, kita kalah. Ini ada yang keliru dan harus ada yang diubah," kata Jokowi, saat pidato pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan 2018, di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 31 Januari 2018 lalu.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/news/detail/14952/Hipmi-Penurunan-Ekspor-Cerminan-Lemahnya-Industrilisasi