Sejarah HIPMI

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) didirikan pada 10 Juni 1972. Pendirian organisasi ini dilandasi semangat untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan pemuda, karena pada saat itu tidak banyak kaum muda yang bercita-cita menjadi pengusaha.

Pada saat itu, anggapan yang berkembang di masyarakat menempatkan kelompok pengusaha pada strata yang sangat rendah sehingga sebagian besar anak muda terutama kalangan intelektual lebih memilih profesi lain seperti birokrat, TNI/POLRI dan sebagainya.

Dalam perjalanannya sampai terjadinya krisis ekonomi pada 1998, HIPMI telah sukses mencetak kaderisasi wirausaha, dengan tampilnya tokoh-tokoh muda dalam percaturan dunia usaha nasional maupun internasional. Keadaan itu kemudian dapat merubah pandangan masyarakat terhadap profesi pengusaha pada posisi terhormat.

Pada Era Reformasi, terutama pasca krisis ekonomi, dituntut adanya perubahan visi dan misi organisasi. HIPMI senantiasa adaptif dengan paradigma baru, yakni menjadikan Usaha Kecil Menengah sebagai pilar utama dan lokomotif pembangunan ekonomi nasional.

Perkembangan HIPMI

Perkembangan HIPMI dari masa ke masa, tidak banyak anak muda yang mempunyai impian menjadi pengusaha di waktu itu. Pada masa itu, anak muda mempunyai impian menjadi tentara dan setelah itu beralih mimpinya menjadi pegawai negeri sipil (PNS)

Seiring dengan berjalannya waktu banyak perubahan yang terjadi, perkembangan teknologi yang pesat ditambah dengan meningkatnya populasi manusia di Indonesia dan dunia pada umumnya memaksa manusia sebagai makhluk sosial harus berubah pula. Sumber daya alam (SDA) yang kian menipis memaksa kita melakukan inovasi untuk tetap dapat bertahan (survive).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan secara berulang-ulang untuk bersikap hati-hati kepada semua pengusaha muda. Hati-hati terhadap perubahan besar dan cepat di sektor konsumsi yang disebut sebagai Revolusi Konsumen.

Sebanyak 141 juta penduduk Indonesia diperkirakan akan masuk dalam masyarakat kelas menengah pada 2020 ini. Angka tersebut meningkat hingga 100 persen dibandingkan pada lima tahun yang lalu, yang hanya sebanyak 70 juta masyarakat yang masuk dalam kelas menengah. Selain mengalami kenaikan jumlah, sebaran geografis konsumen pun juga semakin merata.

Lima tahun lalu, sebanyak 25 kabupaten/kota yang hanya memiliki konsumen kelas menengah hingga lebih dari 500 ribu. Kendati demikian, ke depan, jumlah masyarakat kelas menengah tersebut diperkirakan akan tersebar hingga 54 kabupaten/kota.

Peningkatan jumlah masyarakat konsumen kelas menengah ini akan menjadi daya tarik bagi investasi bisnis global. Apalagi di tengah-tengah situasi perang dagang dan ancaman resesi ekonomi, maka masyarakat konsumen di Indonesia akan semakin menjadi magnet bagi para investor dunia.

Presiden Jokowi juga mengajak para pengusaha muda untuk melakukan revolusi pola pikir. Sehingga mampu memanfaatkan revolusi konsumsi dengan cara memperkuat industrialisasi, hilirisasi, serta daya saing ekonomi.

Scroll to top